Ahmad Dimyati
Peneliti INSISTS
Islam menyatakan bahwa pengetahuan manusia bermula sejak Nabi Adam 'alaihissalam dianugerahi pengetahuan (’allama) tentang ”nama-nama” (al-asma’), lalu dari Adam diteruskan kepada keturunan-keturunannya hingga akhir zaman, yang secara formal berupa wahyu melalui para nabi hingga nabi terakhir Muhammad Saw, dan informal melalui ayat-ayat kauniyah-Nya. Dari sini bisa kita ketahui bahwa ilmu yang diturunkan sejak Adam hingga kini merupakan satu sumber dan satu kebenaran.
Pada dasarnya, semua ilmu pengetahuan sudah terekam secara sempurna dalam Al-Quran. Tradisi ilmu secara berkelanjutan yang dijalankan oleh para nabi sebelum nabi muhammad SAW tersaji begitu indah di dalamnya. Kitab inilah penyempurna, bahkan pengoreksi kesalahan-kesalahan dan penyelewengan ilmu yang telah Allah turunkan sebelumnya . Kemudian ia ditafsirkan melalui hadith yang juga wahyu dalam bentuk perkataan Muhammad SAW. Dari wahyu inilah kemudian ilmu pengetahuan dikembangkan, sejak masa diutusnya Muhammad SAW. hingga sekarang.
Sebelum diutusnya Muhammad SAW, dunia Arab waktu itu – pada abad ke-6 Masehi – merupakan umat yang tidak bisa membaca dan menulis (ummi) , tidak ada ilmu-ilmu khusus yang terbukukan, bahkan tak satu kitab pun yang mengandungi syi’ir dan prosa Arab, di mana syi’ir dan prosa merupakan keahlian khusus Arab Jahiliyah, kecuali kumpulan-kumpulan syair oleh pemenang sayembara sastera yang digantung di Ka’bah (mu’allaqat). Itulah masa Jahiliyah, peradaban rendah ilmu. Namun setelah Al-Quran diturunkan, tiba-tiba kejahiliahan sirna dari Arab, dan berganti menjadi lumbung ilmu dan ilmuan, hingga nantinya berkembang menjadi peradaban terunggul, mengungguli peradaban-peradaban besar dunia, dari segi teritorial dan keilmuan.
Ilmu dalam Islam secara garis besarnya sudah sempurna mengikuti sempurnanya Islam melalui ayat terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Jika dilacak dari turunnya wahyu, maka terdapat dua periode turunnya wahyu, periode Makkah (Ayat Makkiyyah) dan periode Madinah (Ayat Madaniyyah). Pada periode Makkah, ayat-ayat yang turun itu berkaitan dengan ajakan memahami asas-asas keimanan; iman kepada Tuhan, hari akhir – termasuk di dalamnya kebangkitan (ba’th), hari pembalasan (jaza’), timbangan amal (mizan), Surga dan Neraka –, iman kepada para rasul, para malaikat, dan lain sebagianya. Dari ajakan ini kemudian Islam membongkar takhyul dan khurafat yang selama itu menyelimuti kaum Makkah. Begitu juga, ayat-ayat pada periode ini mengandungi asas-asas syariah secara umum, adab, dan keutamaan-keutamaan amalan yang tetap, yang tak berubah karena perubahan waktu dan tempat, khususnya yang terkait dengan memelihara diri (nafs), harta (mal), akal (‘aql), keturunan (nasb). Sedangkan ayat-ayat Madaniyyah mengandungi penjelasan tentang syariat yang rinci, hukum-hukum praktikal dalam ibadah dan muamalah, seperti shalat, puasa, zakat, qishash, nikah, thalaq, jual beli, pinjam dan hutang, riba, dan lain sebagainya yang sebagian besarnya merupakan penyempurnaan dari periode Makkah.
Sewaktu di Makkah, Rasul menyampai wahyunya melalui halaqah ilmu di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam secara samar-samar. Di rumah inilah rasullah menyampaikan risalah kepada para pemeluk Islam awal yang masih sedikit. Halaqah ini adalah sekolah pertama yang diadakan rasulullah di Makkah dan sifatnya masih tertutup. Belakangan sekolah ini dikenal dengan sebutan Dar al-Arqam, suatu tempat penyampaian ilmu dari Allah kepada umat Islam melalui Muhammad di masa dakwah sirriyah.
Di masa Madinah ini, Islam sudah menunjukkan kemandiriannya dalam membentuk lingkungan berilmu. Semua para sahabat menikmati tradisi dakwah dan ilmu di Madinah. Namun ada komunitas khusus yang lebih konsentrasi mengadakan kajian-kajian ilmiah, yakni Ashabu al-Suffah. Kelompok studi ini mengkaji wahyu yang diturunkan kepada nabi. Mereka yang terlibat dalam kelompok belajar ini adalah Abu Hurayrah, Abu Dhar al-Ghiffari, Salman al-Farisi, Abdullah Ibn Mas’ud, dan lain-lain, di mana merekalah kelak diantara orang-orang yang menjadi rujukan keilmuan di masa berikutnya.
Pada masa berikutnya ilmu pengetahuan terus berkembang dan menyebar mengikuti penyebaran Islam ke berbagai wilayah di luar Makkah dan Madinah. Tidak kurang dari 25 tahun setelah wafatnya Nabi (632 M), kaum Muslimin telah berhasil menaklukkan seluruh jazirah Arabia dari selatan hingga utara. Tak sampai satu abad, pada tahun 750 M wilayah Islam telah meliputi seluruh luas jajahan Alexander The Great di Asea (Kaukakus) dan Afrika (Libia, Tunisia, Aljazair dan Maroko), mencakup mesopotamia (Iraq), Syria, Palestina, Persia (Iran), Mesir, dan semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugis) dan India.
Dalam masa dua abad saja, berbagai disiplin pengetahuan telah dicapai, seperti Hadith, Qiraat, Fiqh dan Ushul Fiqh, Sejarah Islam, Lingustiks Arab (Nahwu, Sarraf, Mufradat al-Gharib, Kamus Arab, dll.), Ilmu Syiir Arab (‘Arud dan Qawafi), dan lain sebagainya, ditemukan oleh ulama-ulama di masa itu. Dibidang hadith muncullah Imam Malik bin Anas dengan kitab Muwatta’-nya, Imam Ahmad dengan Musnad Ahmad-nya, Imam Bukhari dengan Sahih Bukhari-nya, Imam Muslim dengan Sahih Muslim-nya, Abu Daud dengan Sunan Abu Daud-nya, Ibnu Majah dengan Sunan Ibnu Majah-nya, Imam Turmuzi dengan Sunan Turmuzi. Di bidang Qiraat dan Tafsir, Syu’bah ibn al-Hujjaj (m. 160 H), Waki’ ibn al-Jarrah (m. 197 H), Sufyan ibn ‘Uyaynah (m. 198 H), Abdul Malik ibn al-Juraij (m. 149 H), Sufyan al-Thauri (m. 161 H). Sementara di bidang Fiqh dan Usul Fiqh adalah ulama mazahib seperti Imam Malik bin Anas (93-179 H), Imam Abu Hanifah (), Imam Syafi’i (150-204 H.), Imam Ahmad Ibn Hambal. Dalam bidang sejarah, muncullah ulama-ulama hebat seperti ‘Urwah ibn Al-Zubair (m. 92 H), Wahb bin Munabbih (m. 110 H), Muhammad bin Syihab al-Zuhri (m. 124 H), Muhammad bin Ishaq bin Yasar (m. 152 H) pemilik kitab “al-Sirah”, Al-Waqidi (m. 207 H), pemilik kitab “al-Maghazi”, Muhammad ibn Sa’ad (m. 230 H), pemilik “Tabaqat al-Kubra”. Dan di bidang bahasa Arab seperti Abu ‘Amr al-Syaibani alias Ishak ibn Mirar (m. 213 H), Al-Bawadi, pemilik “Kitab al-Jim”, Abu ‘Amr al-‘Ala’ (m. 154 H), Khalaf al-Ahmar (m. 180 H), Abu ‘Ubaidah Mu’ammar al-Qasim bin Salam (m. 223 H), dan yang lainnya.
Semakin menyebarnya Islam ke berbagai daerah pada masa berikutnya menyebabkan Islam harus berinteraksi dengan kebudayaan, keilmuan, dan peradaban daerah taklukannya. Hal itu nampak ketika tahun 641 M. Iskandariyah menjadi bagian kekuasaan bangsa Arab, yang sejak lama menjadi teman setia peradaban Yunani. Begitu juga Syria, yang pada abad ke-7 dan 8 adalah pusat-pusat studi bahasa, sastra dan teologi Yunani. Antara lain di Antioch, Harran, Edessa, Qinnesrin, dan Nisibin. Pada periode inilah Islam sudah siap melakukan interaksi yang serius dengan peradaban lain, yang merupakan babak baru pengetahuan Islam.
Siap secara mental dan intelektual (worldview) adalah prasyarat umat Islam menginvasi keilmuan di luar mereka. Keberanian ilmuan-ilmuan Muslim untuk menerjemahkan karya-karya ilmiah Yunani ke bahasa Arab adalah bagian dari agenda intelektual mereka. Penerjemahan ini dimulai sejak pemerintahan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, Syria, yang kemudian membantu akselerasi pencapaian pengetahuan umat Islam, lebih-lebih setelah berdirinya Daulah Abbasiyyah (570 M) yang berpusat di Bagdad. Pemerintahan Abbasiyah ternyata mempunyai semangat besar dalam mengembangkan pengetahuan ini, dan melanjutkan penerjemahan-penerjemahan yang sebelumnya sudah dilakukan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Pemerintahan ini memilih orang-orang terpelajar lokal untuk direkrut dalam kepemerintahannya dan merekalah yang mempunyai peranan penting dalam pengembangan keilmuan. Mereka yang berjasa ini antara lain, misalnya, Ibn al-Muqaffa (m. ± 759 M), Yahya ibn Khalid ibn Barmak (m. ± 803 M). Pada masa berikutnya, tepatnya di masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun (m. 833 M), penerjemahan dan penelitian lebih diintensifkan lagi dan diperkuat dengan pendirian perpustakaan Bayt al-Hikmah. Tercatat sebagai penerjemah dan peneliti di zaman itu seperti Hunayn ibn Ishaq dan anaknya Ishaq ibn Hunayn, Abu Bishr Matta ibn Yunus, Yahya Ibn Adi dan lain sebagainya. Buah dari kerja keras mereka akhirnya tidak sampai di penghujung abad ke-9 hampir semua karya-karya ilmiah Yunani telah diterjemahkan, bahkan ada juga yang diedit, meliputi berbagai bidang keilmuan, mulai dari kedokteran, matematika, astronomi, fisika, filsafat, astrologi dan alchemy, dan melahirkan ulama-ulama hebat sekaliber Jabir ibn Hayyan (m. ca. 815 M), al-Kindi (m. 873 M), dan Abu Ma Shar (m. 886 M).
Selanjutnya, para ulama Islam tidak saja menikmati hidangan ilmiah peradaban baru, tapi mampu mengedit, mengulah, bahkan meracik kembali ramuan keilmuan baru itu, seperti yang dilakuakan oleh al-Khawarism (m. ca. 863 M) dan Umar Al-Khayyam (m. 1132 M) dalam Matematika, Ib Sina (m. 1037 M), Ibn Nafis (m. 1288 M) dalam kedokteran, dan Ibn al-Haytham (m. 1040 M) dan Ibn al-Shatir (m. 1375 M) dalam astronomi, al-Biruni (m. 1048 M) dan al-Idrisi (m. ca. 1150 M) dalam geografi, dan ilmuan-ilmuan besar lainnya.
Seperti yang disebut sebelumnya, kematangan dan kegemilangan ini diikuti dengan kreativitas dan kepakaran untuk mengedit dan memproduksi sendiri pengetahuan di lingkungannya. Sebut saja al-Battani (m. 929 M) yang mengoreksi dan mengedit sistem astronomi Ptolemy, mengamati dan mengkaji pergerakan matahari dan bulan, membuat kalkulasi baru, mendesain katalog bintang, merancang pembuatan pelbagai instrumen observasi, termasuk desain jam matahari (sundial) dan alat ukur mural quadrant. Begitu juga yang dilakukan Ibn Rusd (m. 1198 M) dan al-Bitruji (m. ca. 1190 M), dan lain-lain.
Secara singkat bisa kita simpulkan bahwa ilmu pengetahuan manusia bermula sejak Allah mengajarkannya kepada Adam ’Alaihissalam dan terus diperbaharui dan diperkaya melalui para nabi dan rasulnya sepanjang sejarah manusia hingga sampai kepada kita saat ini. Para rasul itu diutus untuk meluruskan penyelewengan risalah dan ilmu yang disediakan kepada mereka. Dan di tangan Rasul dan Nabi terakhirlah risalah dan pengetahuan manusia telah disempurnakan. Dari risalah itulah kemajuan pengetahuan umat pada saat ini mendapatkan momentumnya.